Rabu, 29 April 2009


ketika perasaan sedang ada dalam duka maupun suka, hal positif yang paling menyenagkan adalah dapat meluapkannya lewat sebuah tulisan yang indah. kali ini puisilah yang dapat mewakili perasaan itu.



Bulan

Ketika pucuk-pucuk kelapa bertanya
Pada bulan yang terus saja berjalan
”Siapa yang kau pandang?”
Dia hanya diam
Ketika kelapa kembali bergoyang
Pucuk-pucuknya kembali bertanya
”kenapa kau setia?”
Dia hanya diam, dan
Menutup wajahnya dengan telapak tangan


Antara Garis

Antara senyum dan tangis
Di situ ada garis
Senyum bisa mengembang
Dengan rekahnya yang merah
Namun bisa berubah semu
Dan akhirnya meledak menjadi tangis
Antara suka dan duka
Ada juga garis
Suka bisa berkibar-kibar meniup
Jagad raya
Bisa juga tenggelam dengan timbulnya wajah nestapa
Antara pria dan wanita disitu juga ada garis
Disitupun ada garis
Pria bisa merdeka diatas segala-galanya
Namun bisa pula redup dan mati
Karena wanita juga punya harga


Curahan Hati

Lampu langit penhias malam
Kusampaikan padamu segumpal pedihku
Aku tadahkan kepala
Kenapa semua diam tak berkata
Angin sendu menyambut
Kelembutannya menggigit kulit
Namun lalu begitu saja
Dikeheningan malam rembulan bersinar terang
Mendungpun takut pada kesetiaan
Rembulan yang ada diujung mata
Mengeluarkan kelopak-kelopaknya
Mengalir mengecup bibir dengan lembutnya
Dia yang mangerti isi hatiku
Mengerti pedihnya hatiku
Menjerit untuk pedihku.



PENO TANGGEPIN YAAA........ ISI HATIKU INIE..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar